CO PRB, PERAN GANDA PEREMPUAN DI RUANG DOMESTIK DAN PUBLIK
May 18, 2010
Writen by
Febiola Pattiruhu
May 14th 2010
Bukan semata reaksi atas kematian suaminya ketika Laksamana Keumalahayati bangkit melawan Portugis dengan membangun benteng bernama Inong Balee bersama legionnya yang terdiri dari perempuan yang menjanda akibat pertempuran melawan Portugis di Teluk Haru, sekitar Teluk Krueng Raya (Acehpedia.com). Kerajaan Aceh Darussalam (pesisir) sudah menerapkan pendidikan yang setara bagi laki-laki dan perempuan Aceh hingga di akademi militernya, meskipun dalam penerapannya terhadap alumninya tetap melihat pada kodrat perempuan yaitu mengandung, dan menyusui anak sehingga penugasan front depan lebih dititikberatkan pada laki-laki seperti halnya suami Keumalahayati yang sesama alumni akademi militer dan Keumalahayati menjadi kepala pengawal istana kerajaan. Bisa kita lihat bahwa perempuan juga memiliki potensi yang sama dengan laki-laki bila diberi pendidikan yang sama kualitasnya, penyadaran yang selevel pemahamannya, juga pengasahan ketangkasan yang sejalan dengan kemampuan dan kodratnya. Mimpi Keumalahayati saat memasuki Akademi Militer Mahad Baitul Makdis bukannlah mejanda lalu memimpin legion para janda korban pertempuran laut, tetapi kecintaannya sebagai anak pesisir Aceh yang menyukai maritime. Dan masyarakat pesisir Aceh menganut budaya patrilineal namun tak bias jender mendukung perempuan untuk memperoleh pendidikan yang setara dengan laki-laki Aceh. Sebagai militer, Keumalahayati tegas dan disiplin, namun jabatannya sebagai kepala protokoler istana juga dibuktikannya dengan sikap luwes dan akomodatif tanpa meninggalkan prinsip.
Peran ganda perempuan menyatakan dengan jelas bagaimana perempuan menjalani kehidupan dan melanjutkan hidup pasca bencana. Ini karena perempuan rata-rata memiliki rasa social, toleransi, dan ikatan kelompok yang kuat, serta jiwa entrepreneur (kemampuan manajerial pendapatan-pengeluaran dengan perhatian besar terhadap pemenuhan kebutuhan dasar keluarga terutama anak-anaknya). Selain itu, perempuan dengan kodrat keibuannya memiliki kelebihan sebagai pendidik pertama dan utama bagi generasi penerus, peletak dasar utama rajutan persatuan dan kesatuan hidup masyarakat.
“Women have a vital role to play in the promotion of peace in all sphares of life, in the family, the community, the nation, and the world. Women must participate equally with men in the decision making process which help to promote peace at all the levels.”
(perempuan memiliki peran vital dalam mempromosikan perdamaian di seluruh segi kehidupan, dalam keluarga, masyarakat, bangsa, dan dunia. Perempuan harus berpartisipasi setara dengan laki-laki dalam proses pengambilan keputusan yang membantu promosi perdamaian di segala tingkatan, Ind. Pen)
(Deklarasi Konferensi Mexico, 1975 dalam Zaitunah Subhan, Peningkatan Kesetaraan dan Keadilan Jender, dalam membangun Good Governance)
Perempuan memiliki seluruh potensi yang dibutuhkan sebagai duta PRB, dengan perilaku yang sadar PRB dan kepekaan social yang membandingkan dirinya dengan lingkungan sekitarnya, perempuan memainkan peran berbeda dalam situasi pencegahan
Rasa social, toleransi dan ikatan kelompok yang kuat menjadikan perempuan mudah membentuk kelompok dan berbagi cerita, pengetahuan tentang PRB kepada perempuan di sekitarnya. Sebaliknya bagi yang diberitahu tentang PRB akan cenderung mengikuti perilaku kawannya tersebut. Ini adalah dampak ikatan kelompok, perempuan berusaha mengidentifikasikan dirinya berdasarkan cirri dan perilaku kelompoknya agar terlihat sama dan sesuai dengan kelompok interaksinya. Identifikasi diri terhadap kelompoknya memudahkan perempuan mengenali lingkungan sekitarnya, lebih peka terhadap situasi dan mudah menyesuaikan diri. Identifikasi ini juga dipengaruhi oleh lingkungan, alam dan penduduknya. Dengan begitu, perempuan mampu mengeksplor potensi-potensi ancaman di sekitarnya secara terperinci dan mengelola pengurangan risikonya sekaligus.
Kemampuan manajerialnya, memberi sentuhan ekonomis pada program PRB. Perempuan paham betul bagaimana mensubstitusikan benda-benda yang berharga sama atau mungkin juga lebih murah untuk mensiasati pendanaan PRB yang terbatas. Dan sentuhan ekonomis ini berpengaruh secara signifikan terhadap PRB dalam pengelolaan yang efektif dan efisien.
Lalu, sebagai ibu ataupun calon ibu, perempuan berpotensi membentuk generasi penerus yang peduli PRB. Sebagai pendidik pertama dan utama, ibu memiliki peran besar dalam membentuk kepribadian anak yaitu sejak dalam kandungan hingga usia enam (6) tahun. Sebab pada usia emas inilah, terbentuk identifikasi diri pada anak sebagai hasil serapan dan peniruan terhadap perilaku orang dewasa di sekitarnya terutama ibunya.
Seluruh potensi yang melekat pada perempuan tersebut menjadikan perempuan sebagai kandidat potensial Community Organizer pada program Pengurangan Risiko Bencana baik di tingkatan masyarakat maupun pemerintah. Factor-faktor keluwesan ini bila diperkuat lagi dengan kesadaran dan pengetahuan yang memadai tentang Penanggulangan Bencana akan sangat membantu perempuan untuk mengelola lingkungan berbasis Pengurangan Risiko Bencana.
Posted by Tito Satriyo. Posted In : Gender